ALLAH DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Saiful Ansori, S. Pd
(PUKET III/STAF PENGAJAR DI STAI ALMAWA)
“Dipublikasikan untuk mahasiswa STAI Al-Ma’arif Way Kanan
25 Januari 2011”
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Al-Dariyat: 56)
Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang
benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah: 31)
Artinya: “(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah
Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka
sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”. (QS. Al-Anam:
102)
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)
Kata Kunci: Khalaqtu,
‘Allama, Rabbukum dan Uswatun Hasanah
A.
Pendahuluan
Pemikiran
pendidikan adalah aktivitas pemecahan masalah yang terkait dengan
persoalan-persolan yang ikut mempengaruhi proses dan hasil pendidikan.
Pemikiran pendidikan dalam Islam lahir akibat dari ideologi Islam yang
digambarkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta suasana baru yang muncul dalam
dunia Islam. Pemikiran pendidikan Islam cepat membuat respon bagi semua
perubahan dan perkembangan itu.[1]
Allah dalam
pemikiran pendidikan Islam adalah sumber dari segala sumber. Artinya dari kitab
al-Qur’an dapat diketahui cita-cita,
materi dan metode pendidikan Islam sebagai pedoman menjalankan aktivitas
pendidikan. Dalam al-Qur’an terdapat lafadz-lafadz tarbiyah, ta’lim tazkiyah
(pendidikan, pengajaran dan penyucia jiwa) yang menjadi paradigma
pendidikan Islam; uswah (keteladanan) yang menjadi metode utama
pembentukan pribadi muslim. Riwayat para Rasul dan kisah-kisah lainnya,
terutama kisah Lukman al-Hakim dalam mendidik anaknya, juga dapat dicontohkan
untuk menjalankan praktek pendidikan Islam.
Al-Qur’an sebagai dasar, memiliki perbendaharaan yang luas dan besar bagi
pengembangan kebudayaan umat manusia. Ia merupakan sumber yang terlengkap, baik
dakwah kemasyarakatan (sosial), moral (akhlak), maupun spirtual (kerohanian),
serta material (kejasmanian) dan alam semesta.
Dengan berpegang pada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an, maka
dalam pelaksanaan dakwah, mampu mengarahkan dan mengantarkan manusia menjadi insan yang
berakhlak mulia, serta mampu mencapai esensi-esensi nilai ubudiyah pada
khaliqnya.
Seperti al-Qur’an, al-Sunnah juga berisi aqidah dan syari’ah. Selain
itu sunnah juga berisi petunjuk untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusia
dalam segala aspeknya, membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang
bertakwa. Untuk itu Rasulullah SAW menjadi guru dan sekaligus pendidik utama.
Hal ini pernah dicontohkan olehnya; pertama, dengan menggunakan rumah
al-Arqam ibn Abi al-Arqam sebagai tempat menuntut Ilmu, kedua, dengan
memanfaatkan satu tawanan perang untuk mengajar cara membaca dan menulis 10
orang Islam,[2]
ketiga, dengan mengirim para sahabat ke faerah-daerah yang baru masuk
Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan
masyarakat Islam.[3]
Peran Allah
sebagai pencipta, pengajar dan pendidikan terhadapt umat manusia secara
operasional diamanatkan kepada Rasulallah Muhammad SAW, yang kemudian
dilanjutkan para ulama’ sebagai pewarisnya. Yang menjadi persoalan bagaimana
Allah memberikan konsep pendidikan dan bagaimana pula konsep itu seharusnya
dilakukan oleh semua pihak yang diamanati-Nya.
B.
Pembahasan
1.
Allah Sebagai Pencipta (Khlaqtu)
Allah adalah
Dzat yang Maha Pencipta. Dia menciptakan segala sesuatu, termasuk langit dan
bumi sesisinya, teristimewa manusia dan jin, dengan tujuan agar mereka
menyembah kepada Allah SWT. Untuk mencapai tujuan itu, Allah mengajarkan bahwa
adanya manusia dan segala mahluk yang lain menunjukkan adanya Allah, Tuhan
Pencipta Yang Maha Agung, Bijaksana dan pengasih lagi Penyayang. Ini
menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan dan hidup ini adalah mengenal Tuhan (berma’rifat)
dan beribadah kepada-Nya.
Manusia adalah
ciptaan Allah. Dalam al-Qur.an istilah manusia diambil dari kata al-insan,
al-nas dan al-basar. Pilihan kata tersebut berarti manusia memeliki banyak
ragam potensi yang dapat ditumbuhkan dengan pendidikan. Secara singkat
Jalaludin menyebutkan sebagaimana berikut:[4]
a.
Konsep al-Insan; manusia
memiliki potensi
1)
Sebagai Khalifah (Leadership)
Tugas pokok manusia sebagai khalifah adalah mewujudkan kemakmuran,
dan kebahagiaan/keselamatan dalam kehidupan dibumi ciptaan Allah. Sesuai dalam
firman-Nya:
Artinya: “Dan
kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia
telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”
(QS. Hud: 61)
Artinya “Dengan
kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan,
dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki
mereka ke jalan yang lurus”. (QS. Al-Maidah: 16)
2)
Hidayah yang terdiri
atas:
a)
Hidayah Al-Iham (Insting)
Tuhan memberikan petunjuk atau hidayah jenis ini kepada semua
mahluk-Nya dari yang paling sederhana sampai yang berakal sempurna manusia yang
berakal sempurna seperti manusia, terutama dalam menghadapi pemenuhan kebutuhan
hidupnya yang paling mendasar (primer) seperti masalah makan, minum,
reproduksi dan lainnya sebagainya.
b)
Hidayah Al-Hawas (inderawi)
Manusia maupun mahluk lainnya dibekali seperangkat indera oleh
Allah seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan untuk
mengenali obyek yang diperlukan dalam hidupnya sehari-hari.
c)
Hidayah Al-Aql (Akal)
Tuhan menjadikan manusia sebagai mahluk unggulan melebihi
mahluk-mahluk lainnya, dengan membekalinya sebuah potensi yang bernama “akal”
yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya, meskipun dalam beberapa teologi
meyakini adanya mahluk lain yang berakal, seperti malaikat dan jin, tetapi
kepastiannya tidak sebaik akal manusia karena manusialah yang mendapatkan
mandat dari Tuhan sebagai mahluk yang layak mengembangkan peradaban di bumi ini.
d)
Hidayah Diniyah (Agama)
Agama adalah aturan atau tatacara hidup manusia yang diyakini
bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagian manusia di dunia dan akhirat.
Agama berfungsi sebagai:
-
Petunjuk kepada manusia tentang
kebenaran sejati
-
Petunjuk kepada manusia tentang
kebahagian yang hakiki
-
Mengatur kehidupan manusia
e)
Hidayah Iman (Kkeyakinan)
Iman suatu hidayah yang sangat istimewa yang tidak dapat direkayasa
oleh siapapun, termasuk para Nabi mapun Rasul. Hidayah Iman langsung sebagai
anugerah Tuhan kepada orang yang dikehendaki dan disayangi-Nya.[5]
b.
Konsep al-Nas; manusia
memiliki potensi sosial
Potensi ini
adalah potensi manusia dalam kedudukannya sebagai mahluk sosial. Wujudnya
berupa kecendrungan untuk bergaul dan menjalin hubungan antar sesasama.[6]
c.
Konsep al-Basar; manusia
memiliki potensi fisiologis
Potensi ini dimaksudkan sebagai daya manusia untuk mempertahankan
hidupnya dalam upaya memenuhi kebutuhan jasmani demi kelangsungan hidup,
seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, perkawinan dan keluarga,
kekuatan dan kesehatan, kepemilikan, pekerjaan dan kesuksesan, istirahat dan
ketenangan.[7]
Selanjutnya isi
pendidikan Islam pun harus sesuai dan dapat menumbuhkan potensi-potensi
tersebut, yakni ajaran-ajaran Allah yang tercantum lengkap dalam al-Qur’an yang
pelaksanaanya dalam praktek kehidupan sehari-hari dicontohkan oleh Nabi
Muhammad SAW.
2.
Allah sudah mengajarkan/sebagai
Pengajar (‘Allama/Mu’alim)
Allah sebagai
Pengajar Yang Maha Agung dalam terminologi kitab suci al-Qur’an al-Baqarah ayat
31. Bahwa Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya yang ada di
Surga. Dan dipertegas lagi tentang Allah Pengajar Yang Maha Agung
Artinya: “Sebagaimana
(kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu
Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan
kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada
kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 151)
Berdasarkan
ayat ini, fenomena proses bisa diketahui. Proses ta’lim yang digambarkan
dalam ayat diatas tidak sekedar ta’lim
dalam arti semata-mata mengajarkan kitab dan apa-apa yang belum
diketahui, tetapi juga meliputi proses tazkiyah (mensucikan jiwa) dalam
rangka menangkap hikmah. Maka hikmah disini adalah kesungguhan dalam berilmu
dan beramal. Yakni kedua-duanya dijalankan dengan sungguh-sungguh.[8]
Beberapa ayat
al-Qur’an, seperti yang tersebut dalam surat al-Rahman ayat ke 4 menjelaskan
bahwa Allah memberi pengajaran kepada manusia dengan menganugerahkan sejumlah
potensi, seperti kemampuan berbicara. Kemudian dalam surah al-‘Alaq ayat ke 5
dikabarkan bahwa manusia diajari tentang sesuatu yang belum diketahui.
Dengan demikian
manusia memiliki kemampuan untuk dididik dengan mengembangkan potensi-potensi
yang diberikan Allah kepadanya.
Begitu
pentingnya ilmu Allah dan Nabi-Nya, sampai Ia memerintahkan Nabi-Nya untuk
berdo’a agar memperoleh ilmu lebih banyak. Do’a yang diajarkan Allah berbunyi “Rabbi
Zidni ‘Ilma” (Tuhanku tambahilah saya ilmu).
Dimata Nabi
Muhammad SAW, ilmu lebih utama dari pada berdo’a, sebab Nabi telah berkata: “Bagi
manusia, satu jam mempellajari ilmu lebih baik dari pada berdo’a selama enam
puluh tahun”.[9]
3.
Allah sebagai Pendidik (Rabbukum)
Allah SWT
sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Dalam terminologi al-Qur’an, Allah disebut
“rabb” pendidik. Yang menjadi anak didiknya adalah seluruh alam yaitu
malaikat, rasul dan nabi, manusia, jin, hewan dan lainnya. Adapun Rasul yang
diciptakan-Nya sebagai penyambung sekaligus menempati kedudukan sebagai utusan
Allah dalam meneruskan rangkaian proses pendidikan yakni mendidik seluruh
manusia agar menjadi hamba-Nya yang bertaqwa. Isyarat ini mengandung pengertian
bahwa dengan ke-Maha Kuasaan-Nya pula Allah memberikan pendidikan kepada
manusia yang menjadi utusan-Nya untuk selanjutnya secara langsung disampaikan
kepada manusia. Pendidikan Allah kepada manusia mencakup 2 hal:
a)
Tarbiyah Khalqiyah (pemelihhharaan
eksistensi manusia). Maksud dari pendidikan jenis ini adalah menumbuh
kembangkan jasmani manusia sejak masih janin hingga dewasa. Demikian juga
kekuatan jiwa dan akalnya mendaaapatkan pemeliharaan Allah.
b)
Tarbiyah Dinyyah Tahdhibiyah (pemeliharaan
agama dan akhlaqnya). Pendidikan ini dilewatkan melalui Rasul agar menyampaikan
wahyu-Nya kepada manusia agar menyempurnakan akan dan membersihkan nafsunya.[10]
Allah Maha
Pendidik bersifat pemelihara segala sesuatu dan Maha Rahman dan Maha Rahim.
Artinya Allah memberi motivasi kepada hamba-Nya agar bersemangat melakukan amal
kebaikan dengan hati yang tenang penuh dengan pecaya diri supaya memperoleh
ridla-Nya. Allah mendidik manusia dan ini merupakan asa pokok dalam pendidikan
Islam yaitu berdasarkan bersifat pemelihara segala sesuatu dan Maha Rahman dan
Maha Rahim.
Berdasarkan
uraian di atas, maka kedudukan Allah SWT sebagai Pendidik Yang Maha Agung
menjadi dasar kajian pemikiran pendidikan Islam. Sebagaimana Tuhan yang
bersifat Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Maha Mengayomi, Maha Memberi Rezeki,
Maha Menjaga Ketertiban sekaligus keharmonisankehidupan alam semesta, maka
cakupan kependidikan ilahiyat juga meliputi seluruh ciptaan-Nya. Menurut
sementara ahli didik muslim, pendidikan Islam pada hakikatnya merujuk pada konsep
tarbiyah yang mencerminkan bahwa
pendidikan itu tidak dapat dilepaskan dari aslinya.[11]
Pesan-pesan tarbiyah
dalam kitab suci al-Qur’an diantaranya terdapat dalam beberapa ayat berikut
ini:
Artinya:
“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula
Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah
memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama
Islam". (QS. al-Baqarah: 132)
Artinya: “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa
yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu
dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu:
Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi
orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada
agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya
orang yang kembali (kepada-Nya).“ (QS. Al-Shura: 13)
Dan surat Luqman ayat 12-19, yang
artinya:
12.
dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu:
"Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah),
Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang
tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13.
dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar".
14.
dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah,
dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15.
dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,
niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha mengetahui.
17.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah).
18.
dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19.
dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
4.
Uswatun Khasanah
Nabi didik oleh
Tuhan dengan sebaik-baiknya, Allah SWT sendiri menunjukkan bahwa Nabi berakhlaq
mulia dan nabi adalah pribadi teladan yang harus dicontoh, sebagaimana yang
difirman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21.[12]
Salah satu
peran Rasulallah sebagai pendidikan yang agung dalam pendidikan Islam sejalan
dengan diutusnya kepada manusia yaitu untuk menjadikan manusia berakhlaq mulia.
Karena itu sosok pribadinya sepantasnya dijadikan acuan dalam merancang program
pendidikan.
Dengan
menempatkan rasulallah SAW sebagai sosok teladan, maka mematuhi ajarannya yang
disampaikan termasuk mematuhi perintah Allah. Hal itu disebutkan Allah dalam
firmannya surat al-hashr ayat ke 7
Artinya: “Apa
saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta
benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk
rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang
dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya
saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa
yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya” (QS. Al-Hashr: 7).
Adapun status
Tuhan sebagai muaddib (Pendidik Yang Maha Agung), penulis belum
menemukan dalam teks al-Qur’an. Tetapi konsep muaddib ditemukan dalam
hadis Nabi Muhammad SAW
Artinya: “Allah
mendidikku, maka Ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan” [13]
Ta’dib adalah masdar
dari kata kerja addaba yang ditutunkan dari kata adabun. Menurut
al-Atas adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat
pengetahuan dan wujud. Hakikat dari dua hal tersebut bersifat teratur dan
secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat manusia, disamping
itu juga sesuai dengan tempat mereka dalam hubungannya dengan hakikat tersebut
serta dengan kapasitas dan potensi jasmani, intelektual maupun ruhani manusia.
Berdasarkan pengertian adabun tersebut,
al-Atas mendefinisikan pendidikan menurut Islam sebagai pengenalan dan
pengakuan tentang hakikat wujud dan pengetahuan yang ditanamkan ke dalam diri
manusia secara berangsur-angsur, juga tentang tempat-tempat yang tepat bagi
segala sesuatu dalam tatanan wujud sehingga dengan pengetahuan itu manusia
dibimbing kearah pengenalan dan pengakuan yang lebih tinggi yaitu mengenai
“tempat” Tuhan yang tepat dalam tatanan segala yang wujud. Intinya adalah
pendidikan menurut Islam merupakan rangkaian usaha agar orang mengenali dan
mengakui eksistensi Tuhan dalam kehidupan ini.[14]
Istilah ta’dib
lebih menekankan makna tentang proses pembinaan moral atau etika (mental)
dalamkehidupan, sehingga muaatannya lebih mengacu kepada peningkatan martabat
manusia.
5.
Allah dalam Kehidupan Manusia
Kehadiran Allah
dalam kehidupan manusia melalui pendidikan yang disampaikan-Nya, antara lain
dengan pendidikan bertauhid. Para ulama Islam membagi tauhid dalam empat
bagian:
a)
Tauhid Dzati: keyakinan bahwa
Allah itu tidak memiliki penyerupaan atau perbandingan dan bahwa sumber dari
segala sumber itu hanya satu yaitu hanya Allah
b)
Tauhid Sifati: keyakinan bahwa
Allah memiliki berbagai sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an maka kita dapat
mengatakan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Mendengar
dan Maha Melihat. Konsep ini dalam surat al-Hashr ayat 22-23
c)
Tauhid Fi’li: keyakinan bahwa
Allah yang memimpin alam ini sebagai dituturkan dalam surah al-isra’ ayat ke 11
d)
Tauhid dalam Ibadah: bahwa
hamba-hamba Allah sama sekali tidak boleh menjadikan sesembahan aelain Allah
dan kalimat laillahaillah adalah sebenarnya menunjukkan tauhid dalam
ibadah.
Pada daasarnya
bentuk tauhid tiga yang pertama adalah tauhid teoriritis, sedangkan yang
kermpat adalah tauhid praktis. Tiga tauhid yang pertama sebenarnya secara
khusus menyangkut pengetahuan , keyakinan dan tafakur alias bersifat teoritis
dan konseptual. Sedangkan tauhid yang keempat dikategorkan sebagai tauhid yang
menyangkut masalah praktis.
Dengan
demikian, manusia bertauhid dalam berfikir,berpandangan, berargumentasi harus
berdasarkan tauhid. Ketika tauhid teoritis di aplikasikan, maka kala itu
dinamakan tauhid praktis atau tauhid dalam ibadah. Jadi pengaruh Allah dalam
kehidupan sangat terasa pada kejiwaan, moral dan perilaku manusia yang beriman.[15]
Gambaran
manusia sebagai penghamba Allah (‘Abid) atas pancaran tauhid dinyatakan
dalam surat al-Furqan ayat 63-67.
Artinya: 63. dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu
(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila
orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung)
keselamatan. 64. dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri
untuk Tuhan mereka]. 65. dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami,
jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan
yang kekal". 66. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap
dan tempat kediaman. 67. dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta),
mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu)
di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqan: 63-67)
6.
Hubungan Khaliq dan Mahluk dalam
Pemikiran Pendidikan Islam
Dari seluruh
uraian diatas, dapat dibuat skema hubungan antara Allah sebagai sang khaliq dan
dan mahluknya sebagai berikut:
Penjelasan
makna skema:
1)
Allah menciptakan alam, kemudian
menjaga dan memeliharanya sampai waktu yang ditetapkan. Sedangkan alam tunduk
kepada Allah berdasarkan sunatullah atau hukum alam.
2)
Allah menciptakan manusia, kemudian
memelihara, mengajarkan dan mendidikanya dengan wahyu atau agama yang
diturunkan-Nya. Selanjutnya manusia
diwajibkan ibadah kepada-Nya
3)
Manusia sebagai mahluk yang diberi
akal pikiran diberi tugas untuk mengelola alam sebagai khalifah yang hasilnya
diperuntukkan bagi semua manusia.
4)
Manusia dengan potensi kecerdasan
intelektualnya dapat mempelajari alam, sehingga meuncullah bidang studi IPA
yang kemudian melahirkan IPTEK dan ketika merka mempelajari manuisa maka
muncullah IPS.
5)
Seluruh hasil studi manusia dan
kreatifitasnya berikut karyanya dalam mengelola alam, semua diabdikan untuk
kepentingan kemanusiaan (humaniora). Hubungan Allah dengan segala yang
diciptakan-Nya diliputi oleh
rahmat/kasih sayang-Nya.
Al-Maraghi
dalam tafsirnya menyatakan bahwa pendidikan yang diberikan Tuhan adalah
pendidikan kasih sayang dan kebaikan. Dengan pendidikan semacam ini,
nilai-nilai Islam dapat diterima dengan sukarela dan ketengan hati serta
membuka dadanya. Allah tidak mengajarkan pendidikan ketat dan memaksakan.
Sesuai dengan
hal tersebut diatas hubungan antara pendidikan dan peserta didik hendaknya
dibina dalam suasana kasih-sayang yang terarah pada pembentukan kepribadian
dengam menanamkan nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan. Untuk membangun
suasana hubungan yang lebih luas, kita
menerapkan asa-asas sebagai berikut:
a)
Mengabdi kepada Tuhan
b)
Berbakti kepada orang tua
c)
Hormat kepada yang lebih tua dan
orang yang dituakan
d)
Menyayangi yang lebih muda
e)
Menghargai sesama
Jika jalinan
kasih sayang serta antara pendidik dan peserta didik dibina dengan baik, maka
hubungan harmonis tersebut dapat melahirkan manusia, baik yang mendidik maupun
yang dididik yang berjiwa kasih sayang, suatu kodrat sang khaliq yang sangat
luhur yang seyogyanya diwarisi oleh setiap orang sebagai mahluk budaya.
Komunikasi kasih sayang dalam suasana interaksi edukatif diharapkan
dapat membina kemampuan peserta didik berkomunikasi dengan siapapun, dalam
kesempatan apapun dan dalam kurun waktu kapanpun, serta tetap dalam suasana
harmonis dan diliputi rasa kasih sayang.
C.
Kesimpulan
1.
Dalam pemikiran pendidikan islam,
Allah berperan sebagai Khaliq Murabbi, Mu’alim, dan muadib sesuai dengan
ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi SAW.
2.
Konsep Kholaqtu, Robbukum, ‘allama,
dan uswatun hasanah/ta’dib harus dipahami secara bersama-sama.
Keempat istilah ini mengandung makna yang sangat menyangkut manusia dan
masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling terkait
satu sama lain.
3.
Pelaksanaan pendidikan Islam oleh
Allah dilimpahkan atau diamanahkan kepada manusia secara perorangan maupun
kelompok untuk mendidik dirinya, keluarga dan masyarakat.
4.
Dalam proses dan kegiatan pendidikan
Islam “asas kasih sayang” menjadi salah satu asa utama yang harus dijadikan
pedoman.
[1] Hasan
Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna,
1987)
[2] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia:
1997), hal. 22.
[3] Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta : PT
Pustaka Firdaus, 1997), Cet, ke-1, h. 49..
[4] Jalaludin, Teologi
Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Gratindo, 2001) h. 138-143
[5] Muhammad Tolhah
Hasan, Apa Bila Iman Tetap Bertahan, (JakartaUtara: CV. Diva Pustaka,
2007) h. 4-21
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan dalam Prespektif Islam, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 1992), hal.
30-31
[9] Ibid
[10] Ahmad Mustofa
al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 1 (Bairut: Dar al-Fikr, 1365), hal.
30
[11] Jalaludin, Op-Cit,
hal. 208
[12] Sayyid
Muhammad Naquib al-Atas, Konsep Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan,
1990), hal. 61-63
[14] Ibid
[15] Murtadla Muttahhari, Allah
dalam Kehidupan Manusia, (Bandung:
Yayasan Mutahhari, 1992), hal. 7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar