Rabu, 05 Desember 2012

PENDIDIKAN

ALLAH DALAM PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Oleh: Saiful Ansori, S. Pd
(PUKET III/STAF PENGAJAR DI STAI ALMAWA)

“Dipublikasikan untuk mahasiswa STAI Al-Ma’arif Way Kanan 25 Januari 2011”

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Al-Dariyat: 56)
Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah: 31)
Artinya: “(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”. (QS. Al-Anam: 102)
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Kata Kunci: Khalaqtu, ‘Allama, Rabbukum dan Uswatun Hasanah
A.       Pendahuluan
Pemikiran pendidikan adalah aktivitas pemecahan masalah yang terkait dengan persoalan-persolan yang ikut mempengaruhi proses dan hasil pendidikan. Pemikiran pendidikan dalam Islam lahir akibat dari ideologi Islam yang digambarkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah serta suasana baru yang muncul dalam dunia Islam. Pemikiran pendidikan Islam cepat membuat respon bagi semua perubahan dan perkembangan itu.[1]
Allah dalam pemikiran pendidikan Islam adalah sumber dari segala sumber. Artinya dari kitab al-Qur’an dapat diketahui  cita-cita, materi dan metode pendidikan Islam sebagai pedoman menjalankan aktivitas pendidikan. Dalam al-Qur’an terdapat lafadz-lafadz tarbiyah, ta’lim tazkiyah (pendidikan, pengajaran dan penyucia jiwa) yang menjadi paradigma pendidikan Islam; uswah (keteladanan) yang menjadi metode utama pembentukan pribadi muslim. Riwayat para Rasul dan kisah-kisah lainnya, terutama kisah Lukman al-Hakim dalam mendidik anaknya, juga dapat dicontohkan untuk menjalankan praktek pendidikan Islam.
Al-Qur’an sebagai dasar, memiliki perbendaharaan yang luas dan besar bagi pengembangan kebudayaan umat manusia. Ia merupakan sumber yang terlengkap, baik dakwah kemasyarakatan (sosial), moral (akhlak), maupun spirtual (kerohanian), serta material (kejasmanian) dan alam semesta.
Dengan berpegang pada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an, maka dalam pelaksanaan dakwah, mampu mengarahkan dan mengantarkan manusia menjadi insan yang berakhlak mulia, serta mampu mencapai esensi-esensi nilai ubudiyah pada khaliqnya.
Seperti al-Qur’an, al-Sunnah juga berisi aqidah dan syari’ah. Selain itu sunnah juga berisi petunjuk untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertakwa. Untuk itu Rasulullah SAW menjadi guru dan sekaligus pendidik utama. Hal ini pernah dicontohkan olehnya; pertama, dengan menggunakan rumah al-Arqam ibn Abi al-Arqam sebagai tempat menuntut Ilmu, kedua, dengan memanfaatkan satu tawanan perang untuk mengajar cara membaca dan menulis 10 orang Islam,[2] ketiga, dengan mengirim para sahabat ke faerah-daerah yang baru masuk Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka pembentukan manusia muslim dan masyarakat Islam.[3]
Peran Allah sebagai pencipta, pengajar dan pendidikan terhadapt umat manusia secara operasional diamanatkan kepada Rasulallah Muhammad SAW, yang kemudian dilanjutkan para ulama’ sebagai pewarisnya. Yang menjadi persoalan bagaimana Allah memberikan konsep pendidikan dan bagaimana pula konsep itu seharusnya dilakukan oleh semua pihak yang diamanati-Nya.

B.       Pembahasan
1.      Allah Sebagai Pencipta (Khlaqtu)
Allah adalah Dzat yang Maha Pencipta. Dia menciptakan segala sesuatu, termasuk langit dan bumi sesisinya, teristimewa manusia dan jin, dengan tujuan agar mereka menyembah kepada Allah SWT. Untuk mencapai tujuan itu, Allah mengajarkan bahwa adanya manusia dan segala mahluk yang lain menunjukkan adanya Allah, Tuhan Pencipta Yang Maha Agung, Bijaksana dan pengasih lagi Penyayang. Ini menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan dan hidup ini adalah mengenal Tuhan (berma’rifat) dan beribadah kepada-Nya.
Manusia adalah ciptaan Allah. Dalam al-Qur.an istilah manusia diambil dari kata al-insan, al-nas dan al-basar. Pilihan kata tersebut berarti manusia memeliki banyak ragam potensi yang dapat ditumbuhkan dengan pendidikan. Secara singkat Jalaludin menyebutkan sebagaimana berikut:[4]
a.       Konsep al-Insan; manusia memiliki potensi
1)      Sebagai Khalifah (Leadership)
Tugas pokok manusia sebagai khalifah adalah mewujudkan kemakmuran, dan kebahagiaan/keselamatan dalam kehidupan dibumi ciptaan Allah. Sesuai dalam firman-Nya:
Artinya: “Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (QS. Hud: 61)
Artinya “Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (QS. Al-Maidah: 16)

2)      Hidayah yang terdiri atas:
a)      Hidayah Al-Iham (Insting)
Tuhan memberikan petunjuk atau hidayah jenis ini kepada semua mahluk-Nya dari yang paling sederhana sampai yang berakal sempurna manusia yang berakal sempurna seperti manusia, terutama dalam menghadapi pemenuhan kebutuhan hidupnya yang paling mendasar (primer) seperti masalah makan, minum, reproduksi dan lainnya sebagainya.
b)      Hidayah Al-Hawas (inderawi)
Manusia maupun mahluk lainnya dibekali seperangkat indera oleh Allah seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan untuk mengenali obyek yang diperlukan dalam hidupnya sehari-hari.
c)      Hidayah Al-Aql (Akal)
Tuhan menjadikan manusia sebagai mahluk unggulan melebihi mahluk-mahluk lainnya, dengan membekalinya sebuah potensi yang bernama “akal” yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya, meskipun dalam beberapa teologi meyakini adanya mahluk lain yang berakal, seperti malaikat dan jin, tetapi kepastiannya tidak sebaik akal manusia karena manusialah yang mendapatkan mandat dari Tuhan sebagai mahluk yang layak mengembangkan peradaban di bumi ini.
d)      Hidayah Diniyah (Agama)
Agama adalah aturan atau tatacara hidup manusia yang diyakini bersumber dari Yang Maha Kuasa untuk kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Agama berfungsi sebagai:
-          Petunjuk kepada manusia tentang kebenaran sejati
-          Petunjuk kepada manusia tentang kebahagian yang hakiki
-          Mengatur kehidupan manusia
e)      Hidayah Iman (Kkeyakinan)
Iman suatu hidayah yang sangat istimewa yang tidak dapat direkayasa oleh siapapun, termasuk para Nabi mapun Rasul. Hidayah Iman langsung sebagai anugerah Tuhan kepada orang yang dikehendaki dan disayangi-Nya.[5]
b.      Konsep al-Nas; manusia memiliki potensi sosial
Potensi ini adalah potensi manusia dalam kedudukannya sebagai mahluk sosial. Wujudnya berupa kecendrungan untuk bergaul dan menjalin hubungan antar sesasama.[6]
c.       Konsep al-Basar; manusia memiliki potensi fisiologis
Potensi ini dimaksudkan sebagai daya manusia untuk mempertahankan hidupnya dalam upaya memenuhi kebutuhan jasmani demi kelangsungan hidup, seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, perkawinan dan keluarga, kekuatan dan kesehatan, kepemilikan, pekerjaan dan kesuksesan, istirahat dan ketenangan.[7]
Selanjutnya isi pendidikan Islam pun harus sesuai dan dapat menumbuhkan potensi-potensi tersebut, yakni ajaran-ajaran Allah yang tercantum lengkap dalam al-Qur’an yang pelaksanaanya dalam praktek kehidupan sehari-hari dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
2.      Allah sudah mengajarkan/sebagai Pengajar (‘Allama/Mu’alim)
Allah sebagai Pengajar Yang Maha Agung dalam terminologi kitab suci al-Qur’an al-Baqarah ayat 31. Bahwa Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya yang ada di Surga. Dan dipertegas lagi tentang Allah Pengajar Yang Maha Agung

Artinya: “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 151)
Berdasarkan ayat ini, fenomena proses bisa diketahui. Proses ta’lim yang digambarkan dalam ayat diatas tidak sekedar ta’lim  dalam arti semata-mata mengajarkan kitab dan apa-apa yang belum diketahui, tetapi juga meliputi proses tazkiyah (mensucikan jiwa) dalam rangka menangkap hikmah. Maka hikmah disini adalah kesungguhan dalam berilmu dan beramal. Yakni kedua-duanya dijalankan dengan sungguh-sungguh.[8]
Beberapa ayat al-Qur’an, seperti yang tersebut dalam surat al-Rahman ayat ke 4 menjelaskan bahwa Allah memberi pengajaran kepada manusia dengan menganugerahkan sejumlah potensi, seperti kemampuan berbicara. Kemudian dalam surah al-‘Alaq ayat ke 5 dikabarkan bahwa manusia diajari tentang sesuatu yang belum diketahui.
Dengan demikian manusia memiliki kemampuan untuk dididik dengan mengembangkan potensi-potensi yang diberikan Allah kepadanya.
Begitu pentingnya ilmu Allah dan Nabi-Nya, sampai Ia memerintahkan Nabi-Nya untuk berdo’a agar memperoleh ilmu lebih banyak. Do’a yang diajarkan Allah berbunyi “Rabbi Zidni ‘Ilma” (Tuhanku tambahilah saya ilmu).
Dimata Nabi Muhammad SAW, ilmu lebih utama dari pada berdo’a, sebab Nabi telah berkata: “Bagi manusia, satu jam mempellajari ilmu lebih baik dari pada berdo’a selama enam puluh tahun”.[9]
3.      Allah sebagai Pendidik (Rabbukum)
Allah SWT sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Dalam terminologi al-Qur’an, Allah disebut “rabb” pendidik. Yang menjadi anak didiknya adalah seluruh alam yaitu malaikat, rasul dan nabi, manusia, jin, hewan dan lainnya. Adapun Rasul yang diciptakan-Nya sebagai penyambung sekaligus menempati kedudukan sebagai utusan Allah dalam meneruskan rangkaian proses pendidikan yakni mendidik seluruh manusia agar menjadi hamba-Nya yang bertaqwa. Isyarat ini mengandung pengertian bahwa dengan ke-Maha Kuasaan-Nya pula Allah memberikan pendidikan kepada manusia yang menjadi  utusan-Nya  untuk selanjutnya secara langsung disampaikan kepada manusia. Pendidikan Allah kepada manusia mencakup 2 hal:
a)      Tarbiyah Khalqiyah (pemelihhharaan eksistensi manusia). Maksud dari pendidikan jenis ini adalah menumbuh kembangkan jasmani manusia sejak masih janin hingga dewasa. Demikian juga kekuatan jiwa dan akalnya mendaaapatkan pemeliharaan Allah.
b)      Tarbiyah Dinyyah Tahdhibiyah (pemeliharaan agama dan akhlaqnya). Pendidikan ini dilewatkan melalui Rasul agar menyampaikan wahyu-Nya kepada manusia agar menyempurnakan akan dan membersihkan nafsunya.[10]
Allah Maha Pendidik bersifat pemelihara segala sesuatu dan Maha Rahman dan Maha Rahim. Artinya Allah memberi motivasi kepada hamba-Nya agar bersemangat melakukan amal kebaikan dengan hati yang tenang penuh dengan pecaya diri supaya memperoleh ridla-Nya. Allah mendidik manusia dan ini merupakan asa pokok dalam pendidikan Islam yaitu berdasarkan bersifat pemelihara segala sesuatu dan Maha Rahman dan Maha Rahim.
Berdasarkan uraian di atas, maka kedudukan Allah SWT sebagai Pendidik Yang Maha Agung menjadi dasar kajian pemikiran pendidikan Islam. Sebagaimana Tuhan yang bersifat Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Maha Mengayomi, Maha Memberi Rezeki, Maha Menjaga Ketertiban sekaligus keharmonisankehidupan alam semesta, maka cakupan kependidikan ilahiyat juga meliputi seluruh ciptaan-Nya. Menurut sementara ahli didik muslim, pendidikan Islam pada hakikatnya merujuk pada konsep tarbiyah yang mencerminkan bahwa  pendidikan itu tidak dapat dilepaskan dari aslinya.[11]
Pesan-pesan tarbiyah dalam kitab suci al-Qur’an diantaranya terdapat dalam beberapa ayat berikut ini:

Artinya: “Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. al-Baqarah: 132)

Artinya: “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).“ (QS. Al-Shura: 13)

            Dan surat Luqman ayat 12-19, yang artinya:
12. dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

4.      Uswatun Khasanah
Nabi didik oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya, Allah SWT sendiri menunjukkan bahwa Nabi berakhlaq mulia dan nabi adalah pribadi teladan yang harus dicontoh, sebagaimana yang difirman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21.[12]
Salah satu peran Rasulallah sebagai pendidikan yang agung dalam pendidikan Islam sejalan dengan diutusnya kepada manusia yaitu untuk menjadikan manusia berakhlaq mulia. Karena itu sosok pribadinya sepantasnya dijadikan acuan dalam merancang program pendidikan.
Dengan menempatkan rasulallah SAW sebagai sosok teladan, maka mematuhi ajarannya yang disampaikan termasuk mematuhi perintah Allah. Hal itu disebutkan Allah dalam firmannya surat al-hashr ayat ke 7

Artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya” (QS. Al-Hashr: 7).


Adapun status Tuhan sebagai muaddib (Pendidik Yang Maha Agung), penulis belum menemukan dalam teks al-Qur’an. Tetapi konsep muaddib ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad SAW

Artinya: “Allah mendidikku, maka Ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan”  [13]
Ta’dib adalah masdar dari kata kerja addaba yang ditutunkan dari kata adabun. Menurut al-Atas adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat pengetahuan dan wujud. Hakikat dari dua hal tersebut bersifat teratur dan secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat manusia, disamping itu juga sesuai dengan tempat mereka dalam hubungannya dengan hakikat tersebut serta dengan kapasitas dan potensi jasmani, intelektual maupun ruhani manusia. Berdasarkan pengertian  adabun tersebut, al-Atas mendefinisikan pendidikan menurut Islam sebagai pengenalan dan pengakuan tentang hakikat wujud dan pengetahuan yang ditanamkan ke dalam diri manusia secara berangsur-angsur, juga tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud sehingga dengan pengetahuan itu manusia dibimbing kearah pengenalan dan pengakuan yang lebih tinggi yaitu mengenai “tempat” Tuhan yang tepat dalam tatanan segala yang wujud. Intinya adalah pendidikan menurut Islam merupakan rangkaian usaha agar orang mengenali dan mengakui eksistensi Tuhan dalam kehidupan ini.[14]
Istilah ta’dib lebih menekankan makna tentang proses pembinaan moral atau etika (mental) dalamkehidupan, sehingga muaatannya lebih mengacu kepada peningkatan martabat manusia.

5.      Allah dalam Kehidupan Manusia
Kehadiran Allah dalam kehidupan manusia melalui pendidikan yang disampaikan-Nya, antara lain dengan pendidikan bertauhid. Para ulama Islam membagi tauhid dalam empat bagian:
a)        Tauhid Dzati: keyakinan bahwa Allah itu tidak memiliki penyerupaan atau perbandingan dan bahwa sumber dari segala sumber itu hanya satu yaitu hanya Allah
b)        Tauhid Sifati: keyakinan bahwa Allah memiliki berbagai sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an maka kita dapat mengatakan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Mendengar dan Maha Melihat. Konsep ini dalam surat al-Hashr ayat 22-23
c)        Tauhid Fi’li: keyakinan bahwa Allah yang memimpin alam ini sebagai dituturkan dalam surah al-isra’ ayat ke 11
d)        Tauhid dalam Ibadah: bahwa hamba-hamba Allah sama sekali tidak boleh menjadikan sesembahan aelain Allah dan kalimat laillahaillah adalah sebenarnya menunjukkan tauhid dalam ibadah.
Pada daasarnya bentuk tauhid tiga yang pertama adalah tauhid teoriritis, sedangkan yang kermpat adalah tauhid praktis. Tiga tauhid yang pertama sebenarnya secara khusus menyangkut pengetahuan , keyakinan dan tafakur alias bersifat teoritis dan konseptual. Sedangkan tauhid yang keempat dikategorkan sebagai tauhid yang menyangkut masalah praktis.
Dengan demikian, manusia bertauhid dalam berfikir,berpandangan, berargumentasi harus berdasarkan tauhid. Ketika tauhid teoritis di aplikasikan, maka kala itu dinamakan tauhid praktis atau tauhid dalam ibadah. Jadi pengaruh Allah dalam kehidupan sangat terasa pada kejiwaan, moral dan perilaku manusia yang beriman.[15]
Gambaran manusia sebagai penghamba Allah (‘Abid) atas pancaran tauhid dinyatakan dalam surat al-Furqan ayat 63-67.

Artinya: 63. dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. 64. dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka]. 65. dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". 66. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. 67. dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqan: 63-67)

6.      Hubungan Khaliq dan Mahluk dalam Pemikiran Pendidikan Islam
Dari seluruh uraian diatas, dapat dibuat skema hubungan antara Allah sebagai sang khaliq dan dan mahluknya sebagai berikut:
Penjelasan makna skema:
1)        Allah menciptakan alam, kemudian menjaga dan memeliharanya sampai waktu yang ditetapkan. Sedangkan alam tunduk kepada Allah berdasarkan sunatullah atau hukum alam.
2)        Allah menciptakan manusia, kemudian memelihara, mengajarkan dan mendidikanya dengan wahyu atau agama yang diturunkan-Nya. Selanjutnya manusia  diwajibkan ibadah kepada-Nya
3)        Manusia sebagai mahluk yang diberi akal pikiran diberi tugas untuk mengelola alam sebagai khalifah yang hasilnya diperuntukkan bagi semua manusia.
4)        Manusia dengan potensi kecerdasan intelektualnya dapat mempelajari alam, sehingga meuncullah bidang studi IPA yang kemudian melahirkan IPTEK dan ketika merka mempelajari manuisa maka muncullah IPS.
5)        Seluruh hasil studi manusia dan kreatifitasnya berikut karyanya dalam mengelola alam, semua diabdikan untuk kepentingan kemanusiaan (humaniora). Hubungan Allah dengan segala yang diciptakan-Nya diliputi oleh  rahmat/kasih sayang-Nya.
Al-Maraghi dalam tafsirnya menyatakan bahwa pendidikan yang diberikan Tuhan adalah pendidikan kasih sayang dan kebaikan. Dengan pendidikan semacam ini, nilai-nilai Islam dapat diterima dengan sukarela dan ketengan hati serta membuka dadanya. Allah tidak mengajarkan pendidikan ketat dan memaksakan.
Sesuai dengan hal tersebut diatas hubungan antara pendidikan dan peserta didik hendaknya dibina dalam suasana kasih-sayang yang terarah pada pembentukan kepribadian dengam menanamkan nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan. Untuk membangun suasana  hubungan yang lebih luas, kita menerapkan asa-asas sebagai berikut:
a)             Mengabdi kepada Tuhan
b)             Berbakti kepada orang tua
c)             Hormat kepada yang lebih tua dan orang yang dituakan
d)             Menyayangi yang lebih muda
e)             Menghargai sesama
Jika jalinan kasih sayang serta antara pendidik dan peserta didik dibina dengan baik, maka hubungan harmonis tersebut dapat melahirkan manusia, baik yang mendidik maupun yang dididik yang berjiwa kasih sayang, suatu kodrat sang khaliq yang sangat luhur yang seyogyanya diwarisi oleh setiap orang sebagai mahluk budaya. Komunikasi kasih sayang dalam suasana interaksi edukatif diharapkan dapat membina kemampuan peserta didik berkomunikasi dengan siapapun, dalam kesempatan apapun dan dalam kurun waktu kapanpun, serta tetap dalam suasana harmonis dan diliputi rasa kasih sayang.

C.       Kesimpulan
1.      Dalam pemikiran pendidikan islam, Allah berperan sebagai Khaliq Murabbi, Mu’alim, dan muadib sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi SAW.
2.      Konsep Kholaqtu, Robbukum, ‘allama, dan uswatun hasanah/ta’dib harus dipahami secara bersama-sama. Keempat istilah ini mengandung makna yang sangat menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling terkait satu sama lain.
3.      Pelaksanaan pendidikan Islam oleh Allah dilimpahkan atau diamanahkan kepada manusia secara perorangan maupun kelompok untuk mendidik dirinya, keluarga dan masyarakat.
4.      Dalam proses dan kegiatan pendidikan Islam “asas kasih sayang” menjadi salah satu asa utama yang harus dijadikan pedoman.


[1] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1987)
[2] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia: 1997), hal. 22.
[3] Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta : PT Pustaka Firdaus, 1997), Cet, ke-1, h. 49..
[4] Jalaludin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Gratindo, 2001) h. 138-143
[5] Muhammad Tolhah Hasan, Apa Bila Iman Tetap Bertahan, (JakartaUtara: CV. Diva Pustaka, 2007) h. 4-21
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 30-31
[9] Ibid
[10] Ahmad Mustofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 1 (Bairut: Dar al-Fikr, 1365), hal. 30
[11] Jalaludin, Op-Cit,  hal. 208
[12] Sayyid Muhammad Naquib al-Atas, Konsep Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan, 1990), hal. 61-63
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Murtadla Muttahhari, Allah dalam Kehidupan Manusia,  (Bandung: Yayasan Mutahhari, 1992), hal. 7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar